Sunday, February 6, 2011



KATA PERKENALAN
Oleh SYAIKH MUHAMAD MUSTAFA AL MARAGHI
Rektor MAGNIFICUS Universitas AL AZHAR

Sejak manusia berada di permukaan bumi ini, hasratnya ingin mengetahui segala hukum dan kodrat alam yang terdapat disekitarnya, besar sekali makin dia meneliti, makin tampak kepadanya kebesaran alam itu, melebihi dari apa yang semula perediksikan. Kelemahan dirinya makin tampak pula dan keangkuhannya pun berkurang.

Demikianlah, Nabi yang membawa Islam itu pun sama pula dengan alam ini. Sejak Bumi menerima cahaya Nabi, para ulama berusaha mencari segi-segi kemanusiaan yang besar darinya, mencari nilai-nilai Asma ALLAH dalam pemikiran-Nya, dalam Akhlak-Nya, serta Ilmu-Nya dan kalaupun mereka mampu mencapai pengetahuan itu seperlunya, namun sampai kini pengetahuan yang sempurna belum juga mereka mencapai. Perjuangan yang mereka hadapi masih panjang. Jaraknya masih jauh, jalannya tak beresudahan.

Kenabian adalah anugerah Tuhan, tak dapat dicapai dengan usaha akan tetepi ilmu dan kebijaksanaan Allah yang berlaku, diberikan kepada orang yang bersedia menerimanya, yang sanggup memikul segala bebannya. Allah lebih mengetahui bagaimana risalahnya itu akan ditempatkan. Muhamad saw. Sudah disiapkan membawa rialahnya(misi) ke seluruh dunia, bagi si putih dan si hitam, bagi si lemah dan si kuat. Ia disiapkan membawa risalah agama, yang hanya satu-satunya menjadi sinar petunjuk, sekalipun nantilangit terbelah, bintang-bintang akan runtuh dan bumi ini pun akan berganti dengan bumi dan angkasa lain.

Kesucian Nabi dalam membawa risalah dan meneruskan amanat wahyu itu, adalah masalah yang tak dapat dimasuki oleh kaum Cendikiawan. Bagi para Nabi sudah tak ada pilihan lain. Mereka menerima risalah dan amanat, dan itu harus disampaikan, sesudah mereka diberi cap dengan stempel Kenabian. Tugas menyampaikan amanat demikian itu sudah menjadi konsekuensiwajar bagi seorang Nabi, yang tak dapat sielakan. Akan tetapi, tidak selamanya wahyu itu menyertai para Nabi dalam tiap perbuatan dan kata-kata mereka. Mereka juga tidak bebas dari kesalahan. Bedanya hanyut dalam kesalahan itu sesudah sekali terjadi, dan mereka segera mendapat teguran.

Muhamad saw. Telah mendapat perintah Tuhan guna menyampaikan amanat itu, dengan tidak dijelaskan jalan yang harus ditempuhnya, bai dalam cara menyampaikan risalah atau dalam cara mempertahankannya. Pelaksanaan diserahkan kepadanya, menurut kemampuan akalnya, pengetahuan’nya dan kecerdasan’nya. Sebagaimana biasa dilakukan oleh kaum Cerdik pandai lainnya. Kemudian datang wahyu memberikan penjelasan secara tegas tentang segala sesuatu yang mengenai beribadat. Tetapi tidak demikian tata-cara kemasyarakatan, dalam keluarga, tentang desa dan kota, tentang negara, baik yang berdri sendiri atau yang terikat nebara-negara lain.

“Aku berlindung kepada Nur wajah Mu, yang telah menyinari kegelapan dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Daripada kemurkaan Mu yang akan kau timpakan kepadaku, atau kebencian Mu kau turunkan kepadaku. Keridaan Mu juga yang kuminta. Tak ada sesuatu daya upaya kalau tidak dengan Allah.”

No comments:

Post a Comment